Dasar Filosofis pengembangan Agrowisata di Dunia

Motivasi agritourism adalah untuk menghasilkan pendapatan tambahan bagi petani. Bagaimanapun, agritourism juga merupakan kesempatan untuk mendidik orang banyak/masyarakat tentang pertanian dan ecosystems. Pemain Kunci didalam agritourism adalah petani, pengunjung/wisatawan, dan pemerintah atau institusi. Peran mereka bersama dengan interaksi mereka adalah penting untuk menuju sukses dalam pengembangan agritourism.

Keuntungan dari pengembangan agritourism bagi petani local dapat dirinci sebagai berikut (Lobo dkk, 1999):

  1. Agriturism dapat memunculkan peluang bagi petani lokal untuk meningkatkan pendapatan dan meningkatkan taraf hidup serta kelangsungan operasi mereka;
  2. Menjadi sarana yang baik untuk mendidik orang banyak/masyarakat tentang pentingnya pertanian dan kontribusinya untuk perekoniman secara luas dan meningkatkan mutu hidup;
  3. Mengurangi arus urbanisasi ke perkotaan karena masyarakat telah mampu mendapatkan pendapatan yang layak dari usahanya di desa (agritourism)
  4. Agritourism dapat menjadi media promosi untuk produk lokal, dan membantu perkembangan regional dalam memasarkan usaha dan menciptakan nilai tambah dan “direct-marking” merangsang kegiatan ekonomi dan memberikan manfaat kepada masyarakat di daerah dimana agrotourism dikembangkan.

Sedangkan Manfaat Agritourism bagi pengunjung (Rilla, 1999) adalah sebagai berikut:

a) Menjalin hubungan kekeluargaan dengan petani atau masyarakat lokal.
b) Meningkatkan kesehatan dan kesegaran tubuh
c) Beristirahat dan menghilangkan kejenuhan
d) Mendapatkan petualangan yang mengagumkan
e) Mendapatkan makanan yang benar-benar alami (organic food)
f) Mendapatkan suasana yang benar-benar berbeda
g) Biaya yang murah karena agrowisata relatif lebih murah dari wisata yang lainnya.

Pengembangan agrowisata diharapkan sesuai dengan kapabilitas, tipologi, dan fungsi ekologis lahan sehingga akan berpengaruh langsung terhadap kelestarian sumber daya lahan dan pendapatan petani serta masyarakat sekitarnya. Kegiatan ini secara tidak langsung akan meningkatkan persepsi positif petani serta masyarakat sekitarnya akan arti pentingnya pelestarian sumber daya lahan pertanian. Pengembangan agrowisata pada gilirannya akan menciptakan lapangan pekerjaan, karena usaha ini dapat menyerap tenaga kerja dari masyarakat pedesaan, sehingga dapat menahan atau mengurangi arus urbanisasi yang semakin meningkat saat ini. Manfaat yang dapat dipeoleh dari agrowisata adalah melestarikan sumber daya alam, melestarikan teknologi lokal, dan meningkatkan pendapatan petani/masyarakat sekitar lokasi wisata
Selanjutnya Sutjipta (2001) menganggap, agrowisata dapat berkembang dengan baik jika terjadi Tri mitra dan tri karya pembangunan agrowisata yang meliputi, pemerintah sebagai pembuat aturan, rakyat/petani sebagai subyek, dan dunia usaha pariwisata sebagai penggerak perekonomian rakyat

Menurut Afandhi (2005), Pembangunan dan Pengembangan agrowisata bagi dunia usaha dapat dilakukan oleh ketiga pelaku ekonomi yaitu Badan Usaha Milik Negara/ Daerah, Perusahaan Nasional, Koperasi, dan Usaha Perorangan. Ketiga Pelaku ekonomi tersebut harus berdasarkan pola manajemen perusahaan penuh dengan modal yang rasional, sehingga ratio costbenefit dan return on invenstment pat diukur setiap tahun, sedangkan cara atau system pengelolaannya dapat dilakukan secara sendiri atau kerjasama (join venture), bagi hasil (sharing), dan lain-lain dengan prinsip saling menguntungkan.

Adapun tenaga kerja sebagai salah satu kunci keberhasilan pembangunan obyek agrowisata adalah kemampuan pengelola yang terdiri dari tenaga pembina, pelaksana, dan pemandu wisata. Untuk itu penyediaan tenaga managerial dan pemandu agrowisata yang progfesional sesuai dengan bidangnya mutlak diperlukan.

Pola pengelolaan agrowisata yang dikembangkan atau dibangun perlu dilakukan dengan mengikutsertakan masyarakat setempat dalam berbagai kegiatan yang menunjang usaha agrowisata. Dengan keikutsertaan masyarakat di dalam pengembangan agrowisata diharapkan dapat ditumbuhkembangkan interaksi positif dalam bentuk rasa ikut memiliki untuk menjaga eksistensi obyek.

Peran serta masyarakat dapat dilakukan melalui :

  1. Masyarakat desa yang memiliki lahan di dalam kawasan yang dibangun agar tetap dapat mengolah lahannya sehingga menunjang peningkatan hasil produk pertanian yang menjadi daya tarik agrowisata dan di sisi lain akan mendorong rasa memiliki dan tanggungjawab di dalam pengelolaan kawasan secara keseluruhan.
  2. Melibatkan masyarakat desa setempat di dalam kegiatan perusahaan secara langsung sebagai tenaga kerja, baik untuk pertanian maupun untuk pelayanan wisata, pemandu dan lain-lain. Untuk itu pihak pengelola perlu melakukan langkah-langkah dan upaya utnuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja khusus yang berasal dari masyarakat.
  3. Menyediakan fasilitas dan tempat penjualan hasil pertanian, kerajinan dan cendera mata bagi masyarakat desa di sekitar kawasan, sehingga dapat memperkenalkan khas setempat sekaligus untuk meningkatkan penghasilan. Disamping itu, dapat pula diikutsertakan di dalam penampilan atraksi seni dan budaya setempat untuk disajikan kepada wisatawan.

Pada hakekatnya pengembangan agrowisata mempunyai tujuan ganda termasuk promosi produk pertanian Indonesia, meningkatkan volume penjualan, membantu meningkatkan perolehan devisa, membantu meningkatkan pendapatan petani nelayan dan masyarakat sekitar, disamping untuk meningkatkan jenis dan variasi produk pariwisata Indonesia.

Obyek agrowisata harus mencerminkan pola pertanian Indonesia baik tradisional ataupun modern guna memberikan daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Wisatawan. Di lokasi atau di sekitar lokasi dapat diadakan berbagai jenis atraksi/ kegiatan pariwisata sesuai dengan potensi sumber daya pertanian dan kebudayaan setempat. Sampai saat ini, berbagai obyek agrowisata yang potensial relatif belum banyak menarik pengunjung, antara lain karena terbatasnya sarana dan prasarana yang tersedia serta kurangnya promosi dan pemasaran kepada masyarakat luas baik di dalam maupun di luar negeri. Untuk itu perlu ditempuh suatu koordinasi promosi antara pengelola dengan berbagai pihak yang berkecimpung dalam bidang promosi dan pemasaran obyek-obyek agrowisata, baik instansi pemerintah maupun biro-biro perjalanan wisata. Hal ini mengingat agrowisata merupakan kegiatan yang tidak berdiri sendiri karena mempunyai lingkup yang luas dan keterkaitan dengan tugas serta wewenang berbagai instansi terkait seperti Departemen Pertanian, Departemen/Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, dan instansi terkait lainnya, kalangan usaha serta masyarakat pada umumnya.

Di dalam melakukan pemasarannya perlu dilakukan pendekatan dengan berbagai pihak yang terkait secara terkoordinasi, mulai dari tingkat perencanaan, pengembangan, pengelolaan, pemasaran sampai dengan pengawasan dan pengendalian. Ditingkat perumusan kebijaksanaan dan pengendalian perlu ditingkatkan peranan panitia kerja agro pusat dan daerah sehingga pelaksanaannya sejalan dengan kebijaksanaan pengembangan sector pertanian dan pariwisata, baik dari aspek lokasi, kawasan kegiatan, maupun penyediaan sarana dan prasarana.
[baca selengkapnya..]

DAYA SAING PARIWISATA INDONESIA

Mungkinkah daya saing pariwisata suatu bangsa diukur dari jumlah wisman yang berkunjung ke negaranya? Meski penting, tentu saja jumlah kunjungan bukan segala-galanya. Maka sekalipun data-data yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik menunjukkan wisman yang datang sudah berangsur-angsur kembali normal, tidak ada jaminan bangsa Indonesia telah dapat menikmatinya kembali. Dibutuhkan eksplorasi data yang lebih dalam untuk membaca apakah kita telah berada pada trek yang benar dan mensejahterakan. Data yang dikeluarkan oleh The World Travel & Tourism Council (WTTC, 2003) menunjukkan, satu-satunya factor yang menguntungkan Indonesia hanyalah harga (Price Competitiveness Index). Artinya, mereka datang karena mendengar berwisata di Indonesia murah. Bagi pengusaha ini berarti harus beroperasi dengan marjin tipis, atau bahkan tanpa marjin sama sekali. Maka tak mengherankan bila pelaku usaha pariwisata masih berteriak, “Sudah banting tulang dan banting otot, tetap saja pas-pasan.” Bagaimanakah mengangkat kembali keunggulan daya saing pariwisata Indonesia yang nyaris terpuruk ini?


Tentu saja kita tak perlu bermimpi terlalu indah dengan berambisi menjadi pemimpin pasar pariwisata dunia seperti yang telah diraih oleh Perancis (86 juta wisman), Spanyol (58 juta), Amerika Serikat (54 juta), Italia (45 juta), atau China (36 juta) (lihat Tabel 1). Dengan jumlah wisman sebesar 5 jutaan tahun lalu, kalau dijalankan dengan tekad yang penuh, dengan strategi yang tepat, kita bisa menghasilkan dolar tiga kali lipat dari sekarang. Bahkan tak tertutup kemungkinan pula bagi kita menyalib jumlah wisman yang telah diraih oleh dua negara tetangga kita (Malaysia dengan 9,85 juta, atau Thailand 10, 67 juta), dan mengungguli Yunani yang sudah mencapai 14,21 juta wisman.

Daya Saing Harga = Segmen Bawah

Setelah mengutak-atik data tentang daya saing pariwisata global yang dikeluarkan oleh WTTC (2003), saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa kita telah sangat tergantung kepada segmen pasar yang kurang menguntungkan. Seperti tampak pada Tabel 2, skor indeks daya saing harga produk pariwisata kita relatif sangat tinggi, yaitu 81 (dimana 1 berarti sangat tidak kompetitif atau sangat mahal, dan 100 berarti sangat kompetitif atau sangat murah) dan berada pada peringkat 8. Sementara Thailand berada di tingkat 36 dengan skor indeks 67, dan Malaysia di peringkat 52 dengan skor 58. Sedangkan Singapore, sudah terkesan mahal di peringkat 110 dengan skor 20. Artinya, mereka bisa menjual produk dan layanan jasanya dengan harga yang jauh lebih baik daripada kita.

Skor daya saing harga setinggi itu hanya berbeda sedikit dengan negara-negara terbelakang yang keindahan alamnya jauh di bawah Indonesia, seperti Togo (indeks 84, peringkat 6), Nikaragua ( 86, peringkat 5 ), Swaziland (88,6, peringkat 4), dan Laos (100, peringkat pertama). Di negara-negara tersebut campur tangan pemerintah dan bantuan-bantuan internasional masih sangat besar, tuntutan masyarakatnya pun belum tinggi sehingga taraf hidupnya masih rendah. Kualitas layanan jasanya pun belum begitu tinggi. Belum banyak hotel bintang lima berkualitas, misalnya. Jadi wajar bila segala sesuatunya masih terbilang murah. Di Indonesia kondisi sekaliknya terjadi. Layanan dan fasilitas sangat beragam, mulai dari melati, bintang lima, hingga boutique hotel. Tetapi sebagian besar dijual di bawah strandar harga yang layak bagi kelasnya.

Tanpa diimbangi dengan competitiveness pada skor-skor lainnya, impian Indonesia mendulang devisa dari sector pariwisata hanya akan menjadi tinggal kenangan. Maka, kendati jumlah wisman yang datang ke Indonesia (5, 17 juta) sudah mendekati wisman yang datang ke Australia (5,37 juta), nilai konsumsi wisatawannya baru sepertiganya (US$ 16,17 juta, bandingkan dengan US$ 50,23 juta). Idealnya, negara yang indah ini bisa menghasilkan nilai konsumsi antara US$ 20 hingga US$ 25 juta.

Indeks di atas menunjukkan beberapa persoalan besar bangsa ini yang sesungguhnya tidak terlalu sulit untuk di atasi. Kita harus mulai terbiasa berpikir strategis, namun bekerja secara praktis. Artinya, mulailah dengan rencana strategis yang melibatkan pelaku-pelaku usahanya secara utuh, dan ciptakanlah kesejahteraan melalui tangan-tangan mereka. Kita harus mulai berani menerima kenyataan bahwa kesejahteraan tidak diciptakan pada dataran makro (negara), melainkan mikro (pengusaha), dan kesejahteraan berarti menghasilkan sesuatu secara produktif, bukan melalui karya-karya yang murah. Marilah kita lihat implikasi strategis dari kenyataan pertama indeks keunggulan dayasaing harga.

Pertama, price competititiveness tidak sama dengan cost competitiveness. Setiap pelaku usaha dalam jasa pariwisata mutlak mencari upaya-upaya untuk mendapatkan kondisi biaya yang rendah. Tetapi kondisi ini tidak boleh dibatasi oleh perangkap harga murah. Strategi komunikasi yang salah bisa membuat pelaku-pelaku usahanya terperangkap dalam jebakan para agent yang menetapkan harga penderitaan, yaitu harga sekedar hidup agar ada perputaran uang. Harap diingat harga jasa pariwisata adalah sebuah bentuk komunikasi. Ia merupakan hasil dialog yang mencerminkan seberapa tinggi manfaat atau nilai yang bersedia dibayar wisatawan.

Kedua, keunggulan daya saing dalam bentuk harga mendatangkan segmen yang terdiri dari kalangan muda yang tidak loyal, mudah berpindah ke daerah tujuan wisata alternatif, sensitif terhadap diskon, dan tidak banyak membeli oleh-oleh. Mereka umumnya adalah kaum muda, single, backpackers, pergi berkelompok, mencari petualangan, menyukai keramaian, dan belum mampu menkonsumsi jasa-jasa berkualitas tinggi. Ketiga, selain sensitif terhadap harga, mereka juga rawan terhadap issue, karena tujuan bepergiannya semata-mata untuk mencari kesenangan. Akibatnya, segmen ini sangat fragile bagi perekonomian, dan rawan bagi kesinambungan usaha. Keempat, mereka kurang berkepentingan terhadap pasokan barang-barang seni, kerajinan, atau industri penopang pariwisata. Segmen ini berbeda dengan kalangan bisnis, atau wisman berusia 40-an, yang datang dengan pasangannya dan sangat menaruh perhatian terhadap ekologi dan clusters pariwisata.

Kelima, lebih jauh ketergantungan pada segmen ini akan berakibat ketidakseimbangan pada matarantai usaha (the value chain), dan keserasian product-market. Keselarasan dapat diibaratkan seorang wisatawan bintang lima bersepatu Bally akan memakai bolpoin Mountblanc. Di Pulau Bali, ditemui 20% wisatawan yang datang adalah wisman bintang lima , bersepatu Bally, namun disakunya hanya tergantung bolpoin pilot. Mereka menginap di hotel Intercon, Pitamaha, Four Seasons, Ritz Carlton atau Amandari. Tapi manakala perutnya sakit, hanya bisa berobat di Rumah Sakit Umum Milik Pemerintah di Sanglah dengan obat generic. Indikator ini mencerminkan kurangnya pemikiran pentingnya upaya peningkatan daya saing secara strategis dengan memperhatikan elemen-elemen penting pada cluster pariwisata. Rumah Sakit, Sekolah, hiburan, tarian dan budaya, dan produk-produk oleh-oleh adalah bagian dari cluster pariwisata yang sama pentingnya.
[baca selengkapnya..]