Potensi Keragaman Hayati

Deretan pegunungan meluas dalam bentuk Y terbalik, melalui bagian tengah dan bagian utara pulau ini. Pegunungan Schawaner di Kalimantan Tengah bertemu dengan bagian barat pegunungan Kapuas Hulu disepanjang perbatasan Serawak dan Kalimantan, selanjutnya meluas ke Utara melalui jajaran Iran sampai ke jajaran Crocker di Sabah. Satu cabang di bagian tenggara meluas ke Pegunungan meratus di Kalimantan Selatan, yang merupakan daerah dengan flora tersendiri. 

Kebanyakan gunung di Borneo termasuk dalam satu unit pusat boigeografi <!--[if !supportAnnotations]-- yang memiliki flora dan fauna pegunungan yang khusus pulau ini (MacKinnon dan MacKinnon 1986). Gunung-gunung di Borneo dapat diibaratkan seperti pulau-pulau di lauatan hutan basah dataran rendah, dan karena isolasi ini kemudian mengembangkan jenis-jenis unik. Dari jenis-jenis endemik di Borneo, 23 jenis (73%) merupakan jenis pegunungan, demikian pula 21 dari 44 jenis mamalia endemik di pulau ini. Namun disayangkan keragaman hayati pegunungan di Kalimantan baru sedikit yang di eksplorasi secara ilmiah. Bukit Raya yang tingginya 2.728 m, barangkali merupakan gunung tertinggi di Kalimantan yang paling banyak diteliti dan merupakan daerah yang tinggi keragaman hayati (Nooteboom 1987 ; MacKinnon). 

Gunung Sebagai Pusat Keragaman Hayati

Gunung – gunung merupakan daerah yang sangat menarik dari segi biologi, mewakili tempat pengungsian Kala Pleistosen, pusat pembentukan jenis-jenis baru dan terjadinya endemisme. Endemisme di gunung sangat tinggi untuk golongan binatang yang merupakan pemencar-memencar yang buruk, misalnya amfibi dan invertebrata. Sisa-sisa hutan dataran tinggi di Tanzania, misalnya menunjukkan endemisme di pegunungan Usambara Timur yang beragam dari 2% untuk mamalia sampai 95% untuk golongan senggulung (Rodgers dan Homewood 1982). Pembukaan vegetasi pegunungan dan khususnya hutan pegunungan dapat menyebabkan kepunahan jenis-jenis yang unik. Gunung-gunung di Borneo dengan hutan dataran rendah di sekitarnya merupakan sebagian dari tempat-tempat keragaman hayati penting di pulau ini. 

Meratus : 

Kawasan Meratus terkenal juga dengan endemisitas floranya, diantarnya adalah 12 jenis tanaman endemik yang hanya ada di kalimantan. Mereka adalah keluarga palem paleman dan satu lagi adalah Rhododendron alborugosum. Jenis tersebut sangat dicari oleh banyak kolektor termasuk Botanical Garden Edinburgh Inggris. Sembilan jenis endimik lainnya adalah lahung (Durio dulcis), damar merah (Shorea beccariana, S. parvistipulata), pitun (Shorea myrionerva), damar ( Shorea obscura, S. rugosa), tengkawang ( Shorea stenoptera), resak (vatica enderti) dan binturung (Artocarpus lanceifolius). Selain itu dikawasan ini juga terdapat hutan agathis (Aghatis beccari) yang kondisinya relatif masih baik di kalimantan Selatan. 

Kawasan ini sangat kaya dengan keragaman fauna. Sampai saat ini paling tidak telah tercatat sebanyak 89 jenis mamalia, 334 jenis burung, 132 jenis herpetofauna (amphibi dan reptil), 65 jenis ikan, 173 jenis kupu-kupu yang tergabung dalam 417 jenis serangga. 

Menurut regulasi perlindungan satwa baik internaional maupun nasional, tidak kurang dari 116 jenis satwa yang dilindungi dapat dijumpai di kawasan ini, antara lain Macan Dahan (Neofelis nebulosa), Owa owa (Hylobates albibarbis), Hirangan (Presbytis frontata) Bekantan (Nasalis larvatus), Lutung Merah (Presbytis rubicunda), Ayam Hutan (Lophura ignita) dan Cukias (Lophura bulweri), Betet-kelapa Filipina (Ciconia stormi), Elang Walacea (Spizaetus nanus), Biawak (Varanus salvator) Ular Sendok (Naja sumatrana), King Cobra (Ophiophagus hannah), Jelawat (Tor tambra), Trogonoptera brookiana albescens, dan Troides amphyrisus thomsonii. Tingkat endemisitas satwa di kawasna ini pun cukup tinggi, dimana tidak kurang dari 75 jenis. 

Muller : 

Ekosistem 

Terdapat 8 (delapan) tipe ekosistem yang dicuplik dari ketinggian 150 – 1.150 mdpl. Dari 8 tipe hutan itu, ialah tipe hutan Dipterocarpaceae dataran rendah (Dipterocarpus, Dryobalanops, Hopea, Paras horea, shorea, Vatica); hutan alluvial; hutan rawa; hutan sekunder tua; hutan Dipterocarpaceae bukit; hutan berkapur; hutan sub gunung; hutan gunung. 

Flora 

Masuk ke dalam 8 tipe hutan di atas dengan ketinggian 50 - 1.150 mdpl terdapat 695 jenis pohon, terdiri dari 15 marga dengan 63 suku dan 50 jenis antaranya endemic pulau Borneo. Kerabat kayu Gaharu (Amyxa pluricor), misalnya jenis pisang baw (Musa lawitienisi); jenis baru lainnya seperti Neo uvaria, Acuminatissima, Castanopsis inermis, Lithocarpus phillipinensis, Chisocheton caulifloris, Eugenia spicata, Shore peltata. Suku Dipterocarpaceae terdapat 121 jenis, Shorea terdapat 30 jenis, Euporbiaceae terdapat 73 jenis, Clusiaceae terdapat 33 jenis, Burseraceae terdapat 30 jenis, Myrtaceae terdapat 28 jenis. 

Fauna 

Di dalam kawasan TNBK terdapat 48 jenis mamalia, diantaranya Harimau dahan, Kucing hutan, Beruang madu, Kijang, Kaijang emas, Rusasambar, Kancil Berang-berang. Terdapat 7 jenis kelompok primate, seperti Orang utan, Kelampiau, Hout, Kelasi, Beruk, Kera, Tarsius. Dari kelompok burung yang teridentifikasi ada 301 jenis dengan 151 marga dan 36 suku, 15 jenis migrant, 6 jenis temuan baru di Indonesia (Accipernisus, Dendricitta cinerasceus, Ficudela parva, Luscinia calliope, Pycononotus flasvescent, Rhinom yas brunneata), 6 jenis burung yang dilindungi UU, Enggang gading, 24 jenis endemic Borneo. Untuk reptilian dan amphibian, ada sekitar 1.500 specimen, 103 telah diidentifikasi dengan 51 jenis amphibi, 26 jenis kadal, 2 jenis buaya, 3 jenis kura-kura, 21 jenis ular dan 1 katak terkecil di dunia (Leptobrachella myorbergi) kurang dari 1 Cm dewasanya. Untuk jenis ikan ada 4.000 specimen dengan 112 jenis ikan, 41 marga, 12 suku dan 14 jenis endemic Borneo. 

Eksistensi jenis mamalia besar, misalnya banteng dan badak di Pulau Kalimantan, adalah berdasarkan informasi masyarakat sekitar yang pernah melihatnya di sekitar Sungai Boh di Kaltim, ataupun petunjuk lainnya seperti daerah mengasin atau sumber air garam, serta jejak kaki. Namun, perburuan yang keras terhadap jenis badak di masa lalu telah berdampak signifikan terhadap kelangkaan dan kepunahannya sekarang ini. 

Sedangkan untuk Orangutan di Kaltim, penyebarannya banyak dibatasi keganasan Sungai Mahakam. Sebaliknya migrasi babi hutan di daerah Kaltim dari sebelah utara ke selatan lebih banyak dibatasi oleh Pegunungan Muller di sebelah barat dan Sungai Mahakam di arah selatan. 

Sungai Mahakam menjadi pembatas ekologi bagi banyak mamalia yang tidak dapat berenang, kecuali bekantan di daerah hilir sungai, ataupun jenis arboreal yang bergelantungan pada cabang dan ranting pohon yang menjulur ke seberang sungai, misalnya, jenis owa. 

Tipe hutan tropis dataran rendah adalah hutan yang terdapat di kaki Pegunungan Muller, baik di sebelah Kalteng maupun Kaltim. Di sini terdapat jenis-jenis komersial, seperti jenis dari meranti-merantian (famili dipterocarpaceae) ataupun jenis ulin (famili lauraceae). Keragaman jenis dari famili dipterocarpaceae ini terus menurun dengan naiknya ketinggian tempat, terbanyak adalah sekitar 134 jenis pada ketinggian di bawah 100 meter. 

Panas yang tinggi dan level oksigen yang rendah dapat menghilangkan jenis-jenis tertentu dari tumbuhan dan hewan perairan. Kekayaan jenis ikan perairan tropis cukup tinggi, di mana sejumlah 394 jenis di antaranya terdapat di Borneo dan sekitar 149 jenis di antaranya adalah endemik. 

Kekhasan Ekosistem dan bervariasinya keadaan topografi kawasan memberikan peluang untuk hidupnya beranekaragam jenis tumbuhan yang hidup pada beberapa tipe ekosistem. Kawasan ini merupakan ekosistem hutan dataran rendah hingga dataran tinggi yang mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan. 

Pada tipe ekosistem hutan daratan rendah didominasi oleh jenis dari family Dipterocarpaceae seperti Tengkawang tungkul (Shorea sp). Jenis lainnya seperti Jelutung (Dyera costulata), Pulai (Alstonia scholaris) dan Belian (Eusideroxylon zwageri). Dari family Palmae ditemukan jenis Bambu (Bambusa spp), Rotan (Calamus sp) dan Aren (Arenga pinata). 

Tipe vegetasi Daratan sedang masih didominasi oleh jenis-jenis dari family Dippterocarpaceae seperti Meranti (Shorea sp), Resak (Vatica sp) dan Kapur (Driyobalanops sp). Jenis lainnya adalah Ubah (Syigium sp), Medang (Litsea sp), Bintangor (Callophylum inofilum) dan Durian burung (Durian carinatus). 

Pada Tipe Vegetasi Daratan Tinggi masih ditumbuhi berbagai jenis meranti. Jenis lain yang khas pada tipe vegetasi ini adalah jenis Cemara gunung (Casuarina junghuniana) dan Ubah ribu (Syzigium sp). Perbedaan yang terlihat jelas pada tipe vegetasi ini adalah munculnya lumut-lumut hijau di setiap batang tumbuhan. Pada tipe vegetasi Puncak Pegunungan, ukuran tumbuhan semakin kecil dan lumut-lumut hijau semakin tebal menempel di kulit pohon. Di antaranya jenis Cemara gunung (Casuarina junghuniana), Pandan (Pandanus sp), Rotan (Calamus sp) dan beraneka ragam jenis Kantong semar (Nephentes sp). 

Jenis satwa yang mendominasi dan paling sering terlihat di kawasan ini adalah jenis Primata (Monyet) seperti Orangutan (Pongo pygmaeus), Kelempiau (Hylobathes moloch) dan Kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Jenis Mamalia lain yang sering terlihat di antaranya Beruang madu (Helarctos malayanus), Rusa (Cervus unicolor) dan Pelanduk (Tragulus napu). Jenis burung yang paling menonjol di kawasan ini adalah berbagai jenis Enggang (Bucerotidae), termasuk jenis Enggang Gading (Rhinoplax vigil) yang menjadi maskot fauna Kalimantan Barat. Sayangnya enggang yang menjadi kebanggaan itu, saat ini sulit ditemui. 

Di Kawasan TNBK yang termasuk dalam kawasan GB Muller pernah dilakukan inventarisasi, hasilnya sebanyak 1.200 jenis tumbuhan, 159 jenis burung, 24 jenis kupu-kupu, 282 jenis ngengat, 17 jenis reptil dan 11 jenis ampibi, 41 invertebrata gua, dan 82 jenis ikan. Tercatat sedikitnya 40 jenis tumbuhan, sembilan jenis ikan, dan 10 jenis burung yang endemik Kalimantan. Untuk jenis yang tergolong langka, setidaknya ada 10 jenis tumbuhan dan delapan jenis satwa berupa enam jenis burung, satu jenis macan dahan, dan satu jenis bulus. Disebutkan juga, ada lima jenis ikan dan satu jenis tumbuhan yang termasuk jenis yang baru tercatat, serta sejumlah jenis flora dan fauna yang diduga jenis baru, seperti Thismia mullerensis.


0 comments:

Post a Comment